Menelusuri Keindahan Istana Air Tamansari Yogyakarta

Menelusuri kota Yogyakarta atau Jogja memang seperti tiada habisnya. Kota ini menawarkan banyak pilihan untuk berwisata. Salah satu tempat yang bersejarah dan kini banyak dikunjungi oleh wisatawan adalah Istana Air Tamansari Yogyakarta. Sejarah dan keindahannya yang dibalut dengan mitos seakan mengundang banyak wisatawan untuk berkunjung. Akhir pekan kemarin saya bersama istri berkesempatan mengunjungi Tamansari Yogyakarta.

Untuk memasuki tempat ini, anda harus membeli tiket masuk dengan harga yang sangat murah. Sekitar 5 ribu rupiah saja. Saya berdua pun membayar sepuluh ribu rupiah. Begitu masuk, saya takjub dengan bagunan di sekitar komplek Istana Air Tamansari ini. Masih berdiri kokoh dan masih tersisa keindahannya.

IMG_20160903_101530

Tamansari didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono pertama. Tepatnya pada tahun 1758 M. Terletak 500 m arah barat daya Kraton Yogyakarta.  Suasana Tamansari Yogyakarta sudah cukup ramai saat saya berkunjung. Padahal jam baru menunjukkan pukul 08.30 WIB. Cuaca terasa agak panas dan ramai dengan lalu lalang pengunjung yang sedang berjalan maupun berselfie ria.

Saya dan istri memutuskan menggunakan jasa guide. Kenapa? Ada banyak hal yang terkadang tidak secara langsung bisa kita tangkap dari saksi bisu bangunan – bangunan bersejarah itu. Seorang bapak yang sudah cukup berumur, kira – kira 60 an tahun menemani kami. Sebuah lencana khas keraton tersemat di bajunya. Itu menandakan bahwa beliau adalah bagian dari abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Tempat pertama yang kami telusuri adalah Gedong Sekawan. Berada persis di depan tempat pemeriksaan tiket. Bangunan persegi panjang berjumlah 4 buah. Dahulunya ini adalah tempat pertunjukan tari dan kesenian ketika Raja bersantai di istana ini. Bangunan berjumlah 4 mengandung tujuan, yaitu agar suara alunan gamelan dan musik lainnya terdengan padu ( stereo ). Keren ya. Selain bangunan, beberapa tanaman yang sudah berusia juga menghiasi sekitar Gedong Sekawan. Tanaman ini dahulunya digunakan untuk perawatan kecantikan keluarga Raja. Pohon Kepel contohnya, tanaman in dahulunya digunakan untuk menghilangkan bau badan dan menyembuhkan asam urat. Sebuah relief bernuansa kejawen terdapat di tempat ini. Malakarama sebutannya. Ini digunakan untuk tolak bala pada zamanannya.

IMG_20160903_091706

Saya selanjutnya dibawa menuju tempat pemandian Raja atau dahulu disebut Pasiraman. Pasiraman Umbul Binangun namanya. Ada 3 kolam pemandian di tempat ini, yaitu Umbul Kawitan ( kolam untuk putra – putri Raja ), Umbul Pamuncar ( kolam untuk para selir ) dan Umbul Panguras ( kolam untuk Raja ). Umbul Panguras terletak di paling selatan dari kompleks Umbul Binangun ini. Di tempat ini lengkap terdapat tempat berganti pakaian dan tempat tidur untuk beristirahat Raja. Nah, di tempat tidur Raja ini ada sebuah mitos yang menyelimuti. Jika ada sepasang suami istri belum mempunyai keturunan berdoa dengan khusyuk, duduk di tempat tidur Raja ini akan dikabulkan permintaannya untuk memiliki keturunan. Hmmm, sekali lagi cuma mitos ya.

IMG_20160903_090652

Tepat di tengah ruang ganti dan tempat tidur Raja ini ada semacam menara. Konon dahulunya digunakan Raja untuk bermain – main dengan para selirnya. Dengan cara melempar sesuatu ke kolam, selir yang berhasil mendapatkan barang tersebut akan mendapatkan hadiah mandi bersama Raja di kolam Umbul Panguras. Di sebelah utara, juga terdapat bangunan serupa, untuk berganti pakaian bagi selir lainnya dan putra – putri raja. Di pojok bagian utara, terdapat sarang burung yang sudah berusia.  Kurang terawat kondisinya. Ini merupakan bekas sarang burung klangenan Raja. Burung Kepodang namanya.

IMG_20160903_090347

IMG_20160903_091249

Air di tempat pemandian ini masih kelihatan sangat jernih. Dan menurut guide yang memandu saya, air ini mengalir sejak bangunan Tamansari Yogyakarta ini berdiri yang berasal dari mata air. Hanya dasar kolam yang diperbaiki menjadi semen. Dahulunya masih bebatuan. Dibuat demikian agar pengelola lebih mudah membersihkan kolam tersebut.  Di kolam ini juga ada mitos, Naga Luntak namanya. Barang siapa bisa melempar koin dan mengenai mahkota naga, akan dikabulkan permintaannya. Sekali lagi, hanya mitos ya.

Gedong Gapura Hageng mejadi tempat kunjungan saya selanjutnya. Dahulunya ini merupakan gerbang utama dari kompleks Istana Air Tamansari ini. Jika ada tamu dari luar kerajaan, mereka akan melewati Gedong Gapura Hageng ini. Di tempat ini terdapat halaman segi delapan ( paseban ) yang kini tinggal sisa – sisanya saja.

IMG_20160903_094737

Perjalanan saya berlanjut menuju ke komplek masjid bawah tanah. Tempat ini bernama Sumur Gumuling. Untuk menuju ke tempat ini, saya dibawa menyusuri jalanan di perumahan yang padat. Salah satunya adalah kampung cyber. Yang tepat bersebelahan dengan kompleks Istana Air Tamansari ini. Yang cukup mengagetkan saya, kampung cyber ini ternyata diresmikan oleh bos facebook, Mark Zuckenberg. Keren ya. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya saya sampai di sumur gumuling. Sesuai namanya, tempat ini berada di bawah tanah. Menyusuri tangga dan lorong – lorong yang agak gelap. Tempat ini dahulunya adalah tempat ibadah dan tempat bersemedi Raja. Di Sumur Gumuling ini terdapat semacam mihrab, tempat pengimaman saat beribadah. Tangga berjumlah 5 buah yang melambangkan rukun islam dan anak tangga berjumlah 9 buah yang melambangkan penyebar islam di pulau Jawa, wali songo. Tepat di bawah mihrab ini dahulunya mengalir mata air yang menjadi sarana untuk berwudhu.

Bagaimana dengan mitos di tempat ini? Jangan  melakukan perbuatan yang kurang terpuji di tempat ini. Menurut guide yang mendampingi saya, banyak kejadian – kejadian kesurupan dan sebagainya terjadi di tempat ini, jika digunakan untuk bermaksiat. Di tempat ini juga terdapat sebuah lorong panjang yang menghubungkan dengan laut selatan. Karena alasan keamanan, lorong ini sekarang ditutup.

IMG_20160903_095634

IMG_20160903_095528

Tempat terakhir yang saya kunjungi adalah kompleks Pulo Kenanga. Nama Kenangan sendiri diambil dari nama pohon yang tumbuh di tempat ini, pohon kenanga. Pulo Kenanga merupakan bangunan tertinggi dibandingkan bangunan lainnya di Istana Air Tamansari Yogyakarta ini. Dahulunya tempat ini berfungsi sebagai tempat persitirahatan dan kegiatan seni. Bagian lantai dua digunakan untuk melihat panorama di sekitar kompleks Tamansari ini. Untuk anda ketahui, dahulunya di sekeliling kompleks Tamansari ini merupakan semacam danau. Jadi untuk pergi dari Pulo Kenanga menuju tempat pemandian raja di Tamansari menggunakan perahu. Jika anda pergi ke tempat ini, akan menemukan tempat yang bernama Pongangan atau dermaga. Sisa – sia bangunannya masih dapat anda lihat.

Menelusuri sisa – sisa Istana Air Tamansari Yogyakarta seperti dibawa ke masa silam. Masa dimana kerajaan Mataram masih berkuasa di tanah Jawa. Membayangkan ketika semua maha karya ini masih sempurna tentulah sangat indah. Melihat sisanya saja sudah sedemikian luar biasa. Yogyakarta memang istimewa, menyimpan tempat – tempat yang bersejarah nan mempesona. Bagi anda yang belum pernah kesini, jangan lupa mengunjunginya. Salam