Tugu Jam di Pasar Gede

Selamat Ulang Tahun Kota Solo #0271

Kraton Solo

Kraton Solo

Kota Solo, merupakan kota budaya yang berasal dari sebuah desa bernama Solo, desa ini sudah ada sejak abad 18, jauh sebelum kehadiran kerajaan Mataram. Sejarahnya bermula ketika Sunan Pakubuwana II memerintahkan Tumenggung Honggowongso dan Tumenggung Mangkuyudo serta komandan pasukan Belanda J.A.B. Van Hohendorff untuk mencari lokasi Ibukota Kerajaan Mataram Islam yang baru. Mempertimbangan faktor fisik dan non fisik, akhirnya desa Solo yang terpilih. Sejak saat itu desa tersebut berubah menjadi Surakarta Hadiningrat dan terus berkembang pesat. Adanya Perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755 menyebabkan Mataram Islam terpecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta dan terpecah lagi dalam perjanjian Salatiga 1767 menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran.

Secara geografis kota Solo terletak pada ketinggian 200m di atas permukaan laut. Berada di antara gunung Merapi, Merbabu, dan Lawu; serta dibatasi oleh Sungai Bengawan Solo dan dibelah oleh oleh Kali Pepe. Kota yang memiliki luas wilayah 44km² , berpenduduk ±500ribu jiwa, sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh dan pedagang. Sebagai kota yang sudah berusia lebih dari 250 tahun, Solo memiliki banyak kawasan dengan situs bangunan tua bersejarah. Ada juga yang terkumpul di sekian lokasi, membentuk beberapa kawasan kota tua, dengan latar belakang sosialnya masing-masing.

Loji Gandrung

Loji Gandrung

Kawasan Kauman, yang awalnya diperuntukkan bagi tempat tinggal (kaum) ulama kerajaan dan kerabatnya, mengalami perkembangan mirip dengan kawasan Laweyan. Banyak tumbuh produsen dan pedagang batik yang sukses. Ada pula perkampungan Pasar Kliwon, kawasan permukiman warga keturunan Arab, yang sukses berdagang batik., serta kawasan perdagangan Balong yang merupakan konsentrasi permukiman warga etnis Cina yang mayoritas berprofesi sebagai pedagang. Kawasan-kawasan tersebut , termasuk bangunan-bangunan tua bersejarah yang juga banyak terdapat di sepanjang jalan protokol Slamet Riyadi, merupakan jejak sejarah perkembangan kota Solo, dengan warna arsitektur dan latar belakang sosiologisnya masing-masing.

Patung Slamet Riyadi

Patung Slamet Riyadi

Keberadaan kampung-kampung dagang yang didukung oleh pasar dengan berbagai komoditi, menempatkan kota Solo sebagai kota pusat bisnis dan perdagangan. Adanya kantong-kantong kegiatan kesenian ditambah berbagai ritual upacara yang dilaksanakan Keraton Kasunanan maupun Mangkunegaran, menjadikan kota Solo menyandang predikat sebagai kota budaya sekaligus daerah tujuan wisata. Warisan budaya lokal yang meliputi kemegahan budaya dan sejarah kerajaan-pun membuat wisatawan baik domestik maupun mancanegara mengunjungi kota ini. Karaton Surakarta dan Puri Mangkunegaran dijadikan perwakilan budaya Jawa untuk terus dilestarikan demi kelangsungan warisan dari masa lalu dan sejarah.

Kota yang memiliki nama lain Kota Surakarta ini, merupakan kota kedua terbesar di propinsi Jawa Tengah. Secara geografis dan administratif Solo berlokasi di tengah eks-Karisidenan Surakarta yang wilayahnya meliputi Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten. Kota ini menempati posisi penting dalam peta politik nasional. Dalam hal potensi investasi, dikenal sebagai kota yang fokus terhadap sektor Manufaktur diikuti dengan perdagangan, restoran & hotel. Kota ini juga dikenal dalam sektor keuangan, pusat perdagangan dan jasa di wilayah Solo dan penyedia tulang punggung manufaktur yang penting.

Tugu Jam di Pasar Gede

Tugu Jam di Pasar Gede

Kota ini menjadi anak emas. Banyak dana dari pusat untuk pembangunan ekonomi kota Solo, yang menjadikannya sebagai daerah potensial untuk memperluas usaha, membuka peluang bagi investor untuk menanamkan investasinya dan mengembangkan industri sandang, perbankkan, dan pariwisata. Seiring dengan adanya semangat otonomi daerah, setiap daerah harus berkompetisi agar tetap bertahan dengan menngandalkan potensi yang dimilikinya. Ini pulalah yang pada akhirnya melahirkan pemikiran pemerintah daerah se-eks-karesidenan Surakarta untuk membuat branding tersendiri bagi kota budaya yang memiliki potensi yang cukup besar di segala bidang. Dan akhirnya lahirlah slogan “Solo, The Spirit of Java”, yang mencerminkan karakteristik dan potensi wilayah tersebut.

Dan akhirnya, saya ucapkan, Selamat ulang tahun Kota Solo yang ke 271. Semoga semakin maju dan semakin di hati masyarakat kota Solo. Menjadi kota yang ramah untuk dikunjungi, murah untuk disinggahi, dan meriah untuk dinikmati.

Tulisan diambil dari beberapa sumber.