Menjatuhkan Pilihan

Karena begitu banyak keputusan yang harus kita ambil atas pilihan-pilihan yang hadir di usia kita saat ini. Saya semakin banyak belajar dari orang lain yang sudah melewati setiap fase pengambilan keputusan.

Kadang, saya merasa heran bagaimana seseorang bisa mengambil keputusan. Bisa dengan mudah memutuskan atau bisa dengan ikhlas mengambil apapun pilihan yang ada. Aneh dan mengherankan memang ketika kita belum melalui fase itu dan melihat orang yang sudah melewati fasenya. Kita penasaran dengan apa yang sebenarnya dia rasakan dan apa yang ada dalam pikirannya.

Untuk itu, saya bertanya tentang bagaimana kita bisa menjatuhkan pilihan. Kata “jatuh” saya piih karena setiap pilihan selalu ada konsekuensinya. Dan jatuh itu konsekuensinya sakit. Maka setiap pilihan pasti ada sisi positif dan negatifnya kan? Dan kita harus mengambil seluruh konsekuensi itu. Saya belajar dan menarik beberapa pelajaran dari orang-orang tersebut.

1. Orang-orang yang telah mengambil keputusan adalah orang yang berani. Mereka telah berani mengambil resiko atas pilihannya dan bertanggungjawab pada apa yang dia pilih

2. Orang-orang itu adalah orang yang sudah selesai dengan egonya. Ada ego yang membentang luas dalam diri seseorang ketika ingin mengambil keputusan. Orang yang sudah menyelesaikan perjalanan atas egonya itu akan lebih ringan dalam memutuskan. Tidak memandang pilihannya sebagai sebuah ketidaksempurnaan atau kecacatan ketika tidak sesuai dengan kehendaknya. Ego itu sudah selesai.

3. Mereka adalah orang-orang yang dimudahkan. Meski kita mungkin tahu bahwa perjuangannya sebelum ini sangat berat. Pengambilan keputusan memerlukan kekuatan hati dan Allah memudahkan hatinya untuk menjadi kuat.

Suatu hari kita pun akan dihadapkan pada pengambilan keputusan pada pilihan. Pilihan yang membuat kita bimbang dan ragu. Pilihan yang membuat kita cemas dan khawatir apakah benar pilihan itu adalah takdirnya atau bukan.

Semoga kita diberikan kekuatan untuk melakukan itu semua, suatu hari. InsyaAllah.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 2 desember 2015

Tagged as: