Foto diambil oleh Dimas Suyatno

Menelusuri Eksotisme Geosite Nglanggeran

Kearifan menjaga Nglanggeran dari keserakahan, berbalut keindahan yang tersembunyi dibalik deretan pegunungan.  Pesona yang tak akan lekang dimakan zaman.

Diambil dari www.gunungapipurba.com

Diambil dari www.gunungapipurba.com

Nglanggeran, sebuah kawasan yang  menyimpan banyak keindahan di daerah Patuk, Gunung Kidul Yogyakarta. Landscape yang indah, bentangan pegunungan berjajar, serta udara yang sejuk memang sangat memesona. Di tempat ini ada beberapa tempat wisata yang membuat kita berdecak kagum. Gunung Api Purba yang berdiri di ketinggian 700 mdpl dan Embung Nglanggeran, spot sunset yang indah adalah 2 tempat wisata  Nglanggeran yang sudah dikenal banyak orang. Tetapi berbicara Nglanggeran bukan melulu soal 2 tempat itu.

Pada tanggal 24/1/2017 yang lalu adalah hari yang spesial bagi saya. Bersama dengan teman – teman Masyarakat Digital Jogja, kami diajak menyusuri sisi lain Nglanggeran oleh Dinas Pariwisata Yogyakarta.

Perjalanan menyusuri geosite Nglanggeran siang itu terasa syahdu. Hembusan angin, langit yang hitam yang diikuti oleh rintik hujan menemani petualangan saya. Hal pertama yang saya dapatkan adalah betapa kompleks Nglanggeran ini adalah tempat yang luar biasa. Menjadi salah satu geosite dari 33 geosite lainnya yang tersebar di 3 wilayah, yaitu Gunung Kidul, Wonogiri dan Pacitan. Ke – 33 geosite ini menjadi bagian dari Geopark Gunung Sewu, yang saat ini dikomandoi oleh Bapak Budi Martono.  Di Gunung Kidul terdapat 13 geosite, Wonogiri 7 geosite dan Pacitan 13 geosite.

Sebelumnya, Geopark Gunung Sewu bernama Geopark Pacitan, kemudian pada tahun 2010 diusulkan menjadi Geopark Global ke UNESCO tetapi ditolak. Baru pada tahun 2013 berganti nama menjadi Geopark Gunung Sewu dan ditetapkan menjadi Geopark Nasional dan diusulkan kembali menjadi Geopark Global.  Setahun kemudian, dari hasil penilaian UNESCO terdapat 9 butir rekomendasi yang harus dipenuhi untuk menjadi Geopark Global. Dan akhirnya pada tahun 2015 Geopark Gunung Sewu ditetapkan menjadi Geopark Global oleh UNESCO di Jepang. Tak berhenti sampai disini, Nglanggeran juga baru saja mendapatkan penghargaan ASEAN CBT ( Community Based  Tourism ) AWARD. Menjadi Desa Wisata terbaik se ASEAN, Keren bukan?.

Penghargaan ASEAN CBT Award ( foto diambil dari www.gunungapipurba.com )

Penghargaan ASEAN CBT Award ( foto diambil dari www.gunungapipurba.com )

Ada satu konsep wisata unik yang ditawarkan di kompleks geosite Nglanggeran ini, yaitu Live In. Tinggal di rumah – rumah warga yang dijadikan homestay selama beberapa hari dan mengikuti budaya yang ada di masyarakat serta belajar banyak hal bukan sekedar berselfi ria. Paket wisata live in ini dikenakan tarif 150 ribu per orang per malam. Wisatawan akan mendapatkan fasilitas menginap beserta 2 kali makan.

Satu pelajaran berharga yang saya petik dari desa wisata nglanggeran adalah kearifan lokal yang dipegang teguh warganya. Kekompakan dalam membangun kompleks geosite Nglanggeran dengan tetap mempertahankan budaya dan tradisi yang turun temurun di tengah era milenial. Kearifan lokal inilah yang menjaga alam Nglanggeran tetap lestari hingga kini. Bukan sekedar rupiah yang mereka cari. Pembangunan untuk masa depan , bahwa Nglanggeran harus tetap ada untuk anak cucu nanti. Seperti slogan di desa wisata ini, ” Salam Satu Bumi, Salam Satu Hati “. Untuk anda ketahui, desa wisata Nglanggeran ini tidak dikelola oleh pemerintah, tetapi dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis ) Nglanggeran.

Perjalanan saya hari itu adalah menuju Kampung Pitu yang mempunyai 2 spot indah, yaitu puncak Gunung Wayang dan Watu Bantal. Berdiri 750 mdpl, terpaut sedikit dengan gunung api purba. Dinamakan Kampung Pitu karena jumlah penghuni di kampung itu tidak lebih dari 7 KK. Nama asli dari Kampung Pitu adalah Padukuhan Tlogo Planggeran. Di desa ini tidak boleh ditempati lebih dari 7 KK dan tidak boleh kurang dari 7 KK, oleh warga masyarakat setempat desa ini sekarang dinamakan Kampung Pitu.

Menurut Mbah Rejo Dimulyo, salah satu tetua di Kampung Pitu, Konon dahulunya terdapat sebuah pohon bernama pohon kinah gadung wulung. Pohon ini menyimpan sebuah pusaka yang memiliki kekuatan besar. Pihak keraton yang mengetahui hal tersebut, langsung mengadakan sayembara untuk menjaga benda pusaka yang berada di dalamnya. Barang siapa yang bisa menjaga benda pusaka ini, akan mendapatkan hadiah. Nah, Mbah Iro Kromo dan Mbah Tirlah yang berhasil menjaga benda pusaka tersebut, yang akhirnya mendapatkan hadiah berupa tanah yang sekarang bernama Kampung Pitu ini.

Kampung Pitu memiliki pantangan yang tak boleh dilakukan. Setidaknya ada tiga pantangan , yang pertama, saat melakukan kesenian wayang kulit, dalang tidak boleh membelakangi Gunung Nglanggeran, Yang kedua, cerita wayang tidak boleh menceritakan tentang  Ongko Wijaya yang disakiti dan yang ketiga, zona bagian utara Gunung Nglanggeran tidak boleh mengadakan kesenian wayang kulit.

Kepala keluarga yang saat ini tinggal di Kampung Pitu adalah Surono, Warso Diyono, Dalino, Suhardi, Yatno Rejo, Sumadiyono, dan Sugito. Kampung Pitu yang bersejarah ini juga dikenal dengan kemistisannya.

Foto diambil oleh Dimas Suyatno

Foto diambil oleh Dimas Suyatno

Perjalanan menuju Kampung Pitu bukan perjalanan yang mudah. Apalagi saat cuaca hujan. Saya dan teman – teman harus diangkut menggunakan alat transportasi setempat, tepatnya menggunakan mobil bak terbuka yang diberi penutup terpal di atasnya. Melawan rintik hujan, jongkok adapula yang berdiri. Jalan yang menanjak, terjal, penuh dengan lumut serasa membuat senam jantung. Sesekali mobil yang mengangkut kami berhenti untuk bersiap menjelajahi track yang sangat ekstrim bagi yang belum pernah melewatinya. Oh ya, bagi anda yang ingin berkunjung ke Kampung Pitu dengan transportasi lokal ini, anda harus membayar 250 ribu untuk 1 mobil.

View Gunung Merapi dari Watu Wayang

View Gunung Merapi dari Watu Wayang

Setelah dari Kampung Pitu, tempat lain yang kami kunjungi dua puncak yang memesona di ketinggian, Puncak Watu Wayang dan Watu Bantal. Gunung Wayang atau Watu Wayang merupakan nama lain Gunung Nglanggeran yang diambil dari cerita pewayangan. Puncak Watu Wayang menyuguhkan kegagahan Gunung Merapi tepat didepan mata, dimana semua lokasi itu dibalut dengan keindahan bebatuan purba khas Gunung Api Purba. Di puncak ini  juga menjadi spot favorit para pencari sunset di Nglanggeran.

Puncak Watu Bantal

Puncak Watu Bantal

 

View Embung Nglanggeran dari Watu Bantal

View Embung Nglanggeran dari Watu Bantal

Puncak kedua adalah puncak Watu Bantal. Letaknya tidak jauh dari puncak Wayang. Untuk sampai disana, perlu sedikit tracking naik turun menyusuri bebatuan yang terjal dan licin. Panorama alam yang luar biasa indah terbentang sejauh mata memandang. Dari tempat ini, kita bisa melihat puncak gunung api purba di sebelah kanan. Yang tak kalah indah, panorama Embung Nglanggeran dapat kita lihat dari puncak Watu Bantal ini. Dari tempat ini pula, kita bisa menikmati spot sunrise dan sunset.

Tempat terakhir yang saya kunjungi adalah Embung Nglanggeran. Salah satu spot sunset terbaik di Jogja. Kami datang ketika hari sudah beranjak malam. Tanpa membuang waktu, saya mengabadikan sisa – sisa sunset yang masih terekam kamera. Tempat yang benar – benar indah.

Embung Nglanggeran

Embung Nglanggeran

Ah, rasanya belum puas menelusuri keindahan di geosite Nglanggeran, tetapi waktu yang terbatas membuat saya dan teman – teman harus puas sampai di sini. Tempak eksotis lainnya, Air Terjun Kedung Kandang belum sempat kami kunjungi. Sehari rasanya tak akan cukup mengupas eksotisme geosite Nglanggeran. Ah, suatu saat nanti, saya akan kembali.

 

Reservasi

Desa Nglanggeran, Kec. Patuk, Kab. Gunungkidul, D.I. Yogyakarta

Phone: 081802606050

FB : Gunung Api Purba Nglanggeran

Email: gunungapipurba@gmail.com